Tuesday, June 18Ajak Kawanmu Untuk Duduk SatuMeja

Bhinneka Tunggal Ika di Boardgame Monas Rush

SatuMeja.com | Menyusul juara juara Boardgames Challenge 2015 yang telah merilis boardgames nya, seperti Waroong Wars (Surabaya), Pagelaran Yogyakarta (Jogya), dan Perjuangan Jomblo (Bandung). Bulan mei ini, empat creator Monas Rush (Jakarta) rencananya akan membuka Pre Order untuk Boardgame karya mereka ini.

Monas Rush Poster

Profile singkat dari masing masing creator dari Monas Rush.

Bernardus Boy Dozan
Seorang founder dari sebuah game developer Joyseed Gametribe yang percaya bahwa value yang terkandung dalam sebuah game sangat lah penting. Suka game party seperti One Night Werewolf, The Resistance, selain party Boy juga suka game seperti Puerto Rico, dan Smallword.

Timothy Istianto
Salah satu dari duo visual artist di bawah nama “TMV” yang menangani proyek illustrasi dan design grafis. Menyukai game Manila, Bloodbound, dan Stone Age.

William Davis
Seorang illustrator yang bekerja di bawah nama Pionicon dan Kosmik. Bukan seorang pemain Boardgames awalnya, mengaku suka game Poker/Capsa.

Nikko Soetjoadi
Passionate game designer yang selalu menghasilkan game terbaik bersama tim.

Monas Rush Creator Boy Timothy William Nikko

Sambil menanti mereka membuka form pemesanannya, saya mencoba mengontak Boy Dozan salah satu punggawa Monas Rush. Mencoba untuk ngepoin Monas Rush dan para Creator nya.

Flashback saat mengikuti 3 hari BGC tahun lalu, kalian ikut BGC dulu itu sudah sebagai satu team atau baru dibentuk saat itu?
Saat mengikuti BGC disitu baru pertama kalinya tim dibentuk, Timmy merupakan teman kuliah saya di Surabaya, sementara Nikko baru berkenalan saat disana. Jadi tim ini baru dibentuk disana.

Bagaimana ceritanya awal ide game ini dibuat saat itu?
Kita berangkat dari sebuah problem dan kegelisahaan, dimana dewasa ini orang-orang Indonesia semakin individual, acuh tak acuh, dan tidak peduli satu sama lain, terutama di kota-kota besar. Sehingga banyak problem kota yang seharusnya kita dapat bergerak untuk membuat perubahan, tetapi kita diam saja karena beranggapan ada orang lain yang bertanggung jawab untuk itu.

Kemudian dari problem itu, kita mencari bagaimana mencari solusi hal tersebut melalui sebuah permainan. Munculah ide “Panjat Jakarta” (codename pertama Monas Rush), dimana kita mendesign sebuah game co-op, dimana kita bekerja sama untuk mencapai puncak bersama-sama dengan mekanik matching simbol untuk memanjat.

Kita juga mengangkat tema di dunia hewan, karena kemajemukan hewan relate dengan kemajemukan masyarakat Indonesia, yang berbeda suku, budaya, dan ras, namun jika kita bersama-sama kita bisa mencapai satu hal. Itu yang ingin kita angkat dalam game ini dan ide dasar dari game ini.

Apa saja perubahan dari game ini, sejak dari final BGC2015 sampai game ini siap dirilis?
Banyak sekali, haha.. Kami banyak melakukan perbaikan hingga sebelum masuk produksi masal. Setelah final BGC2015 dan kami mendapatkan juara favorit, disana kami sering kali melakukan test play dibeberapa event.

Berdasar dari feedback saat playday di final BGC, beberapa playetest, masukan dari tim lain dan masukan dari tim Kummara. Kami mengubah core mekaniknya menjadi kompetitif, dimana lebih sesuai dengan market di Indonesia.

Apakah pesan dan value yang mau kita sampaikan menjadi hilang?
Tidak juga, karena konsep panjat pinang di Monas Rush itu walau kita berbeda-beda tujuan, cuman kita masih saling menopang dan membantu secara tidak langsung kepada pemain, jadi value yang mau kita sampaikan tetap kuat.

Mekanik utamanya juga kami breakdown, serta dari segi art direction lebih kami sesuaikan target market, serta lebih kami poles lagi untuk menghasilkan karya yang maksimal.

Banyak sekali playtest yang kami lakukan dan kami sering memperbaiki prototype kami dari feedback pemain yang mencoba Monas Rush ini. Untuk design UX (User Experience) kami juga explore dengan mencoba playtest berkali-kali, apakah simbolnya mudah dipahami, dstnya.

Kesulitan apa yang paling menantang untuk mempersiapkan game ini?
Kesulitan yang paling menantang bagi kita, yaitu menentukan bentuk permainan yang terbaik dan menarik untuk target audience kita. Kadang kami merasa tidak puas jika ada pemain yang merasa game kami kurang asik, sehingga hal itu mendorong kita terus untuk memperbaiki prototype kita. Kadang sering kami buntu juga dalam game designnya, harus diapakan sehingga lebih menarik.

Monas Rush Card Game

Apakah ada pembagian tugas diantara kalian dalam mengerjakan Monas Rush? Bagaimana pembagiannya kalau ada.
Game Designer: Boy Dozan, Nikko Soetjoadi
Illustrator: William Davis
Visual Director: Timothy Istianto
Overall sih seperti ini, plus saya punya tanggung jawab untuk memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Setelah game ini rilis nanti, apakah kalian mempersiapkan sesuatu untuk mendukung pemasaran yang dilakukan oleh pihak kompas?
Ada, tunggu kabar mainnya ya.. Soalnya sedang kami persiapkan

Ada Merchandise atau produk pendukung game yang dijual terpisah nantinya? Kalau ada, seperti apa aja itu? 
Kalau ini sih rencananya juga ada, cuman kita mau lebih fokus pada Monas Rushnya sendiri terlebih dahulu, membesarkan fanbasenya terlebih dahulu.

Ada hal yang ingin disampaikan kepada kawan kawan yang membaca informasi ini?
Sebentar lagi Monas Rush bakalan rilis ke pasaran, Semoga produk kami bisa dinikmati! jika ada saran, kritik dan pertanyaan tentang Monas Rush silahkan saja ke boydozan@hotmail.com,

Oya follow social media kita ya di facebook.com/monasrush dan instagram @monasrush

Monas Rush Card Game 2


Semoga kepoan singkat diatas dapat mengurangi rasa penasaran kawan kawan tentang Boardgames Terfavorit di Boardgames Challenge 2015 lalu, nantikan update terbaru dari Monas Rush dan game lokal lainnya di satumeja.com ini. (eFKa)

Meet Bin-Bin, seekor badak jawa perwakilan distrik jawa dari kelurahan bojong kenyod kecamatan moroseneng. Siap menjadi penantang di pertandingan #MonasRush, Bin-Bin adalah cerminan feminis sejati, hobbynya adalah nonton UFC dan juga Smackdown, dan tinju di hari minggu. Biarpun keras dan kasar Bin-Bin sebenarnya keibuan dan suka melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan menjahit. Ingin melihat sepak terjang Bin-Bin? Tunggu kelanjutannya di #MonasRush
Penantang selanjutnya adalah Marco sang model celana dalam yang sehari-harinya bekerja sebagai gym trainer di pusat berbelanjaan. Setiap hari dia selalu menjaga ototnya dengan diet mayo, diet ketogenik, dan selalu mengusapkan minyak telon di otot-ototnya. Rata-rata gajinya habis untuk membeli suplemen dan vitamin fitness, juga untuk membeli tiket theater dan photo book idol grup favoritnya. Pria penggemar warna pink ini memiliki fansclub prbadi yang bernama ” Marconah”. Lihat sepak terjang Marco hanya di #MonasRush
Biarpun anak orang kaya dan terpandang, Elizabeth yang merupakan penantang dari distrik Kalimantan tidak sombong dan mau berteman dengan siapa saja. Untuk ukuran siswi SMA Elizabeth sangatlah terkenal, dan memiliki banyak followers di sosial media, dia mendapatkan uang jajan tambahan dari bisnis endorsement di akun sosial medianya. Baru-baru ini Elizabeth membeli tas merek “Kremes” dari luar negeri yang harganya lebih mahal dari gaji seluruh peserta #MonasRush digabungkan. Karena strata sosial Elizabeth yang tinggi, kebanyakan cowok-cowok takut mau mendekatinya karena sudah terintimidasi dulu. Tunggu kisah Elizabeth selanjutnya hanya di #MonasRush
Olly polisi jujur dan bersahaja, anti suap dan korupsi, polisi gemulai dan ramping sangat tidak suka dengan segala tindak pelanggaran hukum. Biarpun tegas Olly selalu menindak oknum pelanggar hukum dengan lemah lembut dan gemulai,terkadang ini membuat sang oknum jijik dan gelisah. Olly yang punya hobby melukis, berpuisi, dan mendengarkan lagu-lagu band visual kei ini suka merawat diri dengan menghabiskan waktu ke salon untuk perawatan, benar-benar definisi lelaki metrosexual sejati. Akhir-akhir ini olly menghabiskan waktu senggang untuk mengunjungi gallery seni kontemporer dan marathon film drama korea. #MonasRush
Abud pesulap mistis bertampang datar, memiliki tangan yang lihai dan kemampuan hipnotis. Sebenarnya menjadi seorang pesulap bukan impiannya, Abud yang sangat malas hanya berpikir kalau dengan belajar sulap dapat meringankan pekerjaan sehari-harinya. Cita-cita sebenarnya adalah menjadi seorang cosplayer namun dia terlalu malas untuk menjahit kostum. Sehari-hari Abud menghabiskan waktu dengan membaca manga scan, nonton anime online, makan dan tidur. Abud yang pernah ikut ajang pencarian bakat pesulap di TV berjudul “De Mister” ini dapat tidur dimana saja kapan saja. Film holywut favoritnya adalah cerita tentang 4 pesulap yang berjudul “Sekarang lo liat gue”.
The last but not least! Gomu si geek ninja! Mahasiswa jurusan astro fisika dan ilmu geologi ini sangatlah genius. Dia memiliki IQ 200, namun EQ sangat rendah. Merupakan tipe geek antisosial yang tidak disukai teman karena pelit dalam membagi contekan saat ujian. Si genius Gomu merasa pelajaran di kampus terlalu mudah, sehingga doa mengisi waktu luang dengan mempelajari ilmu ninja. Awalnya Gomu tertarik dengan nonja karena membaca komik Sunarto santri ninja, dengan tokoh utama Sunarto, Basuke, dan Sukro. Gomu yang jomblo sejak lahir ini sangat lemah bila berhadapan dengan cewek. Apakah Gomu dengan fisiknya tang lemah ini dapat bertahan di #MonasRush ? Saksikan kisah selengkapnya sesaat lagi.
Wahai para penduduk Hewanesia!! Kami tim #MonasRush membuka kesempatan PRE_ORDER untuk para penduduk yang ingin mendapatkan Boardgame Monas Rush lebih dulu dari penduduk yang lainnya. Pre Order di buka sampai tanggal 10 Juni 2016! Silahkan buka link: http://goo.gl/forms/iaZsgsksCu14tzNC2 untuk melakukan pendaftaran calon pemesan. Kami juga akan memberikan BONUS berupa FREE STICKER untuk setiap penduduk yang memesan produk ini lewat sistem PO. AYO! ramaikan pertandingan Monas Rush!!

.
.

Boleh Share ajak yang lain duduk SatuMeja disini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •